• FYI

    28 Agustus 2019

    Dia Kembali


    Aku duduk di kursi paling sudut, di tepi jendela. Terlihat jelas suasana di luar. Namun, tatapanku kosong, aku tak peduli dengan suasana di luar sana. Sudah sewajarnya sebagai mahasiswa tingkat akhir mengalami dilema semacam ini, ketika harus fokus menyusun skripsi. Tunggu, bukan itu yang membuatku dilema!

    Di hadapanku, berdiri kokoh meja kayu jati, di atasnya terdapat laptop kesayanganku dan dua gelas lemon tea. Ini yang sebenarnya membuatku dilema, aku masih terbiasa memesan dua gelas lemon tea setiap kali datang ke kafe ini. Tidak, aku tidak sedang menunggu seseorang, aku selalu datang ke sini seorang diri. Tepatnya ketika ia tak lagi mewujudkan diri.

    Kafe yang terletak di pusat kota Bandung ini, menyimpan banyak kenangan indah. Aku tak pernah memesan menu lain selain lemon tea. Ya, dua gelas.

    Bunyi pesan masuk seketika membangunkanku dari lamunan.

    "Hai, sayang. Aku pikir, mengapa tidak kamu menghabiskan musim panas tahun ini bersamaku, di sini? Akan aku perkenalkan dengan teman dekat ibuku, beliau orang hebat. Berbincang dengannya akan membantumu menulis skripsi yang luar biasa. Menarik bukan?”

    “Asyik juga,” gumamku.

    ***

    Tak menyangka, aku benar-benar menginjakkan kaki di kota ini, Tokyo. Bukan keputusan keliru untuk menghabiskan summer kali ini bersama Rio. Setelah Rio memutuskan tinggal bersama ibunya di Jepang dan melanjutkan studi di sini, kami menjalani hubungan jarak jauh.

    Aku tiba di Bandara Haneda pukul 05.30 waktu Tokyo. Aku menghubungi Rio, menanyakan keberadaannya. Dia mengatakan akan menjemputku. Kubaca balasan darinya, 10 menit lagi dia sampai. Sungguh tak sabar.

    Sebentar lagi, jiwa ini akan bertemu dengan separuhnya, yang selalu dipertanyakan kapan akan berjumpa, yang setahun ini membuatku meneteskan air mata karena rindu yang tak terbendung, dan yang saat ini membuat jantungku berdegup tanpa ampun.

    Sambil menunggunya, kupasangkan earphone di telingaku, musik siap diputar. Calvin Harris, penyanyi tampan asal Skotlandia memanjakan pendengaranku dengan suara merdunya. Kupejamkan mata meresapi lirik demi lirik, nada demi nada, lagu yang sangat indah.

    When I met you in the summer
    To my heartbeat sound
    We fell in love
    As the leaves turned brown
    And we could be together baby
    As long as skies are blue
    You act so innocent now
    But you lied so soon
    When I met you in the summer
    Summer
    When I met you in the summer
    (Summer)
    (Hey)
    (Love)
    (Hey)

    Suara indahnya berlalu, telingaku kembali sunyi. Namun, tiba-tiba tubuhku sulit bergerak, dengan cepat kulepaskan earphone dan kubuka mata. Terlihat dua tangan melingkar di pinggangku, sangat erat.

    “Aku sangat merindukanmu, Dinda,” seseorang berbisik di telingaku.

    Kuberbalik badan, spontan kujatuhkan tubuhku pada badan tegap pria tampan di hadapanku, dia kembali memelukku erat. Kami tengah berlayar di lautan rindu, tak peduli dengan puluhan pasang mata yang sedang menyaksikan adegan mesra kami.

    “Aku merindukanmu, Rio,” ujarku lirih.

    Tiba-tiba kurasakan Rio melambaikan tangan ke arah tepat di belakangku. Lalu ia berbisik, “Kau akan kuperkenalkan kepada seseorang yang kuceritakan tempo lalu. Dia akan menjadi ayahku, Dinda.”

    Aku penasaran bukan main. Sosok pria seperti apakah yang mampu membuat Rio bersedia menerimanya, menjadi pendamping hidup Tante Marini setelah 10 tahun hidup sebagai single parent.

    “Rio, maafkan saya lama menjemputmu. Inikah gadis manis yang sering kau ceritakan itu,”

    Suara itu? Tidak mungkin!

    Rasa penasaran dibalut ketegangan, aku berbalik badan.

    Dia! Saat ini dia tepat di depanku. Seorang pria pertama yang memperkenalkanku pada cinta. Seorang penikmat lemon tea sepertiku. Seseorang yang 3 tahun lalu memutuskan pergi dari kehidupan kami dan tak pernah kembali lagi.

    “Din...kamu Dinda? Ini kamu, Nak?” Ia tampak terkejut, lalu menarik tubuhku dalam pelukannya.

    Aku membencinya, tetapi tak kuasa melepaskan diri dari pelukannya. Aku menangis hebat. Tak bisa dipungkiri, aku sangat merindukannya.

    “Ayah.” kulirihkan kata itu dalam hati.

    Penulis: Sri Maria (Pengurus KPKers Pusat)

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Cerpen

    Puisi

    Inspirasi