• FYI

    04 September 2019

    Memoles Rantai Emas Kemerdekaan

    Tujuh puluh empat tahun sudah Indonesia merdeka. Dengan bertumpu pada nilai-nilai religius, budaya, tradisi, letak geografis, serta semangat untuk terbebas dari belenggu kolonialisme, maka lahirlah negri terhormat yang bernama Indonesia.

    Kini, Indonesia berdiri anggun, sejajar dengan bangsa-bangsa lain dengan semangat menyongsong masa depan bangsa menuju arah lebih baik.

    Setiap generasi yang lahir dari rahim ibu pertiwi, memperoleh warisan untuk melanjutkan estafet perjuangan menjaga harmonisasi bangsa ini dengan berlandaskan nilai Pancasila serta Bhineka Tunggal Ika sebagai kompas utama.

    Setiap bangsa mengukir sejarahnya masing-masing, pun dengan Indonesia. Pencapaian dan tantangan menjadi aksesorisnya, begitupun hari ini. Ketika pencapaian-pencapaian akan ditorehkan, di sampingnya berdiri tantangan yang siap menghadang.

    Akhir-akhir ini berita mengenai konflik di masyarakat cukup banyak menyita perhatian. Seperti terjadinya kericuhan tanggal 22 Agustus 2019, berupa demonstrasi warga di Manokwari, Papua. Ini adalah reaksi sebagai dampak dari kericuhan yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu. Dimana kericuhan tersebut terdapat unsur diskriminasi ras yang berbuntut pada tindakan radikalisme.

    Banyak oknum dengan sengaja memanfaatkan teknologi digital untuk memanipulasi situasi agar timbul konflik, dengan “menyembelih” nilai-nilai kebhinekaan bangsa Indonesia.

    Dalam hal ini, sikap pemerintah dalam menyelesaikan konflik-konflik yang muncul di masyarakat perlu ditingkatkan. Di samping itu juga perlu upaya mengambil langkah persuasif guna menanggulangi konflik serta isu-isu yang ada ditengah masyarakat agar tidak kembali terulang.

    Selain itu, pemerintah harus semakin gencar dalam mengingatkan kembali tentang warisan warisan dari para leluhur yang ada dalam jari diri bangsa Indonesia. Media yang dapat pemerintah akses tentunya sangat luas jangkauannya. Salah satunya, melalui jalur pendidikan.

    Pemerintah dapat menambahkan porsi nilai-nilai nasionalisme dan kebhinekaan dalam setiap sendi dan gerak tiap jalur pendidikan. Dimulai dari tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi. Untuk jenjang PAUD sampai SLTA, bisa dengan dimuat dalam setiap rangkaian materi pelajaran yang digunakan. Tentunya, pemerintah wajib menggandeng lembaga pemerintahan maupun swasta dalam memantau konten media maupun buku pelajaran yang akan di distribusikan ke lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia.

    Dan juga sumber daya manusianya yakni para guru. Para guru yang aktif di lembaga pendidikan baik formal maupun non formal haruslah tidak terpapar paham radikalisme. Salah satu cara yang bisa di lakukan adalah dengan rutinnya mengadakan pelatihan-pelatihan maupun kegiatan lain yang dapat memupuk nilai-nilai nasionalisme dan kebhinekaan dalam diri masing-masing guru sebagai sebagai bekal dalam mengajar. Tindakan-tindakan tersebut dilakukan sebagai cara untuk memoles rantai emas bangsa Indonesia yang menyatukan segenap masyarakat dari berbagai agama, suku, budaya, ras serta adat tradisi.

    Maka, untuk mempertahankan keanggunan bangsa ini, yang di poles oleh nilai-nilai Nasionalisme serta Bhineka Tunggal Ika, pemerintah perlu menggandeng pihak lain seperti pihak swasta serta segenap element masyarakat Indonesia untuk mau dan antusias mengisi Kemerdekaan Indonesia dengan nilai-nilai yang telah diwariskan dari para leluhur yaitu para pejuang terdahulu dalam mewujudkan bangsa yang merdeka dan bermartabat dimata bangsa-bangsa lainnya. Tidak ada alasan, hanya karena adanya perbedaan menjadi sebab terjadinya perpecahan bangsa yang telah dengan susah payah di bangun dahulu.

    Penulis: Ruslan Nurhasanah.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Cerpen

    Puisi

    Inspirasi