• FYI

    04 September 2019

    Merdeka Tanpa Diskriminasi dan Ketimpangan Sosial

    Sejalan dengan nilai perikemanusiaan dan perikeadilan, bagi bangsa Indonesia semangat kemerdekaan adalah semangat tanpa diskriminasi dan ketimpangan sosial. Dahulu kolonialisme telah merampas semangat kesetaraan di antara sesama anak bangsa. Demikian juga, dengan hierarki tajam yang berusaha dipelihara oleh kaum kolonial. Demi meraih segala idealisme hidup penuh kesetaraan dan tanpa diskriminasi, para pendiri bangsa berjuang dengan segenap jiwa dan raga merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah.

    Saat ini, kita sudah melewati fase perjuangan melawan penjajah asing. Namun, tujuan kemerdekaan yang melampaui perjuangan pada masa itu masih terasa ‘jauh panggang dari api’. Bangsa ini seakan masih mudah terprovokasi dalam menanggapi segala perbedaan dalam masyarakat. Salah satu perbedaan yang masih kerap disalah pahami ialah perbedaan kedudukan sosial dalam masyarakat.

    Satu kelompok merasa berhak untuk mendapatkan perlakukan berbeda dari negara atau kelompok masyarakat lainnya hanya dikarenakan latar belakang kedudukan atau status sosialnya dalam masyarakat. Celakanya, masih ada oknum pejabat negara yang justru terkesan mengikuti kemauan kelompok tersebut. Sehingga, bermunculanlah ragam kebijakan diskriminatif dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya.

    Tentu saja, kebijakan yang diskriminatif tersebut akan berdampak pada semakin lebarnya jurang ketimpangan sosial. Apabila diskriminasi menyasar pada masyarakat di wilayah akar rumput, tidak hanya akan membawa bencana ekonomi, namun juga berujung pada ancaman atas keamanan negara.

    Hal ini juga dipengaruhi oleh masih belum hilangnya prasangka dari satu kelompok masyarakat atas masyararakat lain di luar kelompoknya sendiri yang berbeda dalam hal ras, agama, etnis maupun suku bangsa. Perbedaan belum sepenuhnya diterima sebagai sebuah rahmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada bangsa Indonesia. Tak heran bila saat ini masih saja ada anggapan bahwa etnis minoritas tertentu dipandang memiliki akses dan sumber daya ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan etnis mayoritas.

    Meskipun hanya prasangka, namun terkadang kenyataan menunjukkan bahwa ketimpangan sosial itu seakan memang benar-benar terjadi. Sebagai contoh, jumlah para konglomerat jauh lebih sedikit dibandingkan masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah. Sedangkan identitas sosial para konglomerat masih dipandang kebanyakan berasal dari salah satu etnis minoritas tertentu.

    Kita tentu berusaha agar momok serius yang akan mengancam keutuhan bangsa ini segera dapat teratasi. Untuk mengatasi persoalan ini, yang paling utama, ialah dengan tetap memperkuat demokrasi, baik sebagai sebuah sistem politik maupun sistem sosial, dalam bingkai negara kesatuan.

    Demokrasi yang mengandung penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, perlu terus didukung oleh kondisi sosial, ekonomi dan budaya agar memungkinkan kehidupan politik yang bebas dan setara di dalamnya. Terkait dengan hal ini, terdapat setidaknya dua hal kunci yang akan memperkuat bangunan demokrasi kita. Pertama, memastikan perluasan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, tanpa memandang perbedaan latar belakang sosial, ekonomi dan budaya. Kedua, negara menjamin penghargaan harkat dan martabat manusia dan perlindungan atas hak asasi manusia.

    Dengan penguatan demokrasi, maka cita-cita bangsa tentang kemerdekaan tanpa diskriminasi dan ketimpangan sosial akan dapat diwujudkan. Kendati demikian, satu hal lain yang tak kalah penting untuk menjaga perjuangan menuju kemerdekaan semacam itu ialah ketegasan dari lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen. Semoga kita masih memiliki napas panjang untuk menjalani perjuangan yang tak kenal lelah ini.

    Banjar, 25 Desember 2019

    Penulis: Bahrul Haq Al Amin (Wakil Ketua KPKers Ciamis)

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Cerpen

    Puisi

    Inspirasi