• FYI

    15 November 2019

    Pemuda di Tengah Pusaran Globalisasi



    Oleh: Muhammad Aufal Fresky



    Ancaman bagi generasi muda sekarang begitu nyata. Selain bahaya narkoba dan seks bebas; kaum muda sekarang sedang menghadapi era baru di mana pertukaran budaya begitu massif. Pertukaran budaya yang akan membawa dampak buruk jika tanpa upaya penyaringan. Lihat saja, sebagian kaum muda yang mulai menggandrungi musik dan fashion ala-ala Korea. Bahkan mereka cenderung lebih mengenal budaya Korea dibandingkan budaya lokal bangsanya sendiri.

    Arus globalisasi memang tidak bisa dibendung. Perubahan dalam berbagai aspek kehidupan mulai terasa hingga ke pelosok-pelosok desa. Tengok saja anak-anak muda yang mencoba menampilkan dirinya sebagai artis luar negeri yang dengan rambut yang dicat warna dan anting di telinganya. Belum lagi terkait pergaulan bebas dianggap biasa oleh sebagian kalangan. Sungguh hal ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Bagaimanapun juga, kaum muda adalah harapan bangsa di kemudian hari.

    Kaum muda tidak boleh terhanyut oleh derasnya arus globalisasi. Hanyut dalam artian tidak bisa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya sendiri. Sayangnya, masih saja ada kaum muda kita yang berpandangan bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar negeri merupakan suatu kemajuan. Meniru budaya luar diartikan sebagai cara untuk menjadikan diri mereka selangkah lebih maju dengan yang lainnya. Seolah-olah dengan menjiplak budaya luar merupakan kemajuan dalam hidupnya. Padahal belum tentu juga. Bisa jadi hal tersebut merupakan suatu kemunduran.

    Banyak hal yang datangnya dari luar tidak bisa kita tiru begitu saja. Kita sebagai bangsa yang berbudaya memiliki nilai-nilai luhur yang kearifan lokal sebagai cerminan orang-orang yang memiliki adab. Bahkan sampai sekarang sebagian orang luar negeri terkesan dengan keramahan dan kesopanan orang-orang dari Indonesia. Bukankah hal semacam itu merupakan pengakuan orang luar terhadap kebiasaan positif orang-orang Indonesia? Menjadikan segala sesuatu yang datangnya dari asing sebagai sebuah tolak ukur kemodernan adalah sebuah kekeliruan.

    Cara berpikir semacam itu harus segera diperbaiki. Modern bukan berarti mabuk-mabukan dengan alkohol seperti yang dilakukan sebagian orang barat. Bagi sebagian dari mereka; mengkonsumsi alkohol merupakan hal yang biasa. Bahkan alkohol/ minuman keras sudah semacam air mineral bagi mereka. Beda halnya dengan kita yang memiliki patokan nilai-nilai luhur dan norma-norma baik norma agama maupun sosial yang harus kita penuhi.

    Generasi muda Indonesia secara tidak langsung mulai dijajah pola pikirnya. Pengaruh budaya asing perlahan disebarluaskan untuk menanamkan mindset bahwa budaya mereka lebih ‘keren’ dibandingkan budaya lokal kita. Coba saja tengok; betapa banyak pengaruh film, musik, dan berbagai acara TV yang telah berhasil mengubah cara hidup generasi muda kita. Mulai dari cara berpakaian hingga cara bergaul.

    Dampaknya adalah secara perlahan sebagian pemuda akan mulai inferior dan memandang rendah budaya bangsanya sendiri. Semisal, semakin hari makin banyak kaum muda yang kecanduan nonton K-POP. Bahkan menjadikan dandanan ala Korea sebagai kiblat fashion bagi mereka. Itu masih dari Korea. Belum lagi dari Amerika, India, Inggris dan semacamnya. Tentu saja, kebudayaan yang mereka sebarkan tidak serta merta tanpa maksud dan tujuan. Ada kepentingan ekonomi di balik propaganda budaya. Apalagi jumlah penduduk Indonesia yang kira-kira kurang lebih 250 juta penduduk; bukankah hal itu sangat menjajikan bagi perkembangan industri dan bisnis dari luar negeri.

    Wajar saja jika saya mengatakan yang kita hadapi bukanlah penjajahan secara fisik seperti di zaman Jepang ataupun Belanda. Yang kita hadapi sekarang adalah penjajah yang tidak nampak bentuknya. Penjajahan intelektual yang menyusup lewat propaganda budaya.

    Kejelian dan kekritisan kaum muda sangat menentukan untuk menentukan pilihan di era digital saat ini. Memilih untuk menjadi pelopor perubahan dengan cara melawan arus atau hanya diam saja terhanyut oleh arus. Gelora kaum muda sangat diharapkan mampu menciptakan gelomban perubahan ke arah yang lebih baik. Hati-hati; bangsa kita secara perlahan mulai dirusak mentalnya oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Mulai dari maraknya narkoba, pornografi, miras, dan hal-hal negatif lainnya. Kaum muda wajib terus bergerak dan bergerak tiada henti. Nasib bangsa ke depan berada di bawah kendali mereka.

    Selanjutnya sebagai kaum muda yang hidup di era digital; kita bertanggung jawab untuk mempromosikan kepada dunia internasional tentang kebaikan-kebaikan orang Indonesia. Kita tunjukkan kepada publik internasioanal bahwa kita bangga dengan negeri kita. Bangga dengan warisan para leluhur. Baik warisan yang berupa nilai hidup (contoh: kerukunan); maupun warisan berupa seni dan pakaian tradisional (contoh: tari-tarian, lagu daerah, pakaian adat Madura, dan sebagainya).

    Kaum muda adalah tunas-tunas baru yang akan memikul amanah segenap masyarakat Indonesia. Salah satunya yaitu untuk terus menjaga, merawat dan melesatarikan budaya lokal. Dan terkait budaya luar tadi, kita wajib mengambil apa yang baik dan membuang segala yang buruk. Jangan jadi seperti burung beo yang hanya bisa meniru dan mengikuti. Sekali lagi, untuk pemuda Indonesia, sudah saatnya kita berkarya dan berdedikasi untuk Indonesia.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Cerpen

    Puisi

    Inspirasi