• FYI

    29 November 2019

    Tangan Kecil


    Oleh: Linda Puspita

    Sejak satu tahun lalu, tas ransel berwarna hitam selalu tampak lebih berisi. Di balik punggung seorang gadis, tas itu setia menemani langkah menelusuri jalanan yang becek saat hujan dan berdebu ketika terik ganas menyengat bumi. Puluhan pasang mata tak bisa lepas dari ayunan langkah gadis berkulit sawo matang. Di wajahnya terpancar senyum penuh ketulusan.

    "Bu, Bu, Kak Rara sudah datang!" anak laki-laki usia lima tahun berteriak di depan pintu rumah. Pandangannya sebentar melihat ke arah Rara dan sebentar menerobos temaramnya ruangan setelah pintu masuk di rumahnya.

    Tidak lama kemudian, sosok wanita memakai kaos oblong, ada gambar wayang di bagian dadanya, keluar dengan tergesa-gesa. Diikuti para penghuni rumah lainnya yang saling berdekatan. Wajah-wajah penuh cinta menyambut Rara dengan ramah. Sepertinya mereka memang menunggu kehadirannya. Anak-anak kecil berebut menarik-narik tangan Rara. Mengajaknya untuk mengambil air. Gadis berambut kriting dan sedikit merah itu tidak pernah bisa menolak ajakan mereka. Dia pasrah saat dua anak menggeretnya dan satu anak lagi mendorong tubuhnya dari belakang. Rara merasa, jika ini dapat membuat mereka bahagia, dia akan menurutinya dengan senang hati. Yang terpenting masih dalam tahapan yang wajar baginya.

    "Iya, iya, Kakak ikut, tapi pelan-pelan. Tas kakak berat, nih," keluh Rara, tapi bernada canda.

    Di depan sana, ember-ember siap menadah kucuran air dari pompa air yang dinaikturunkan Rara. Peluh mengalir dari kening yang kemudian tergelincir ke gagang pompa berlapis cat biru. Samar-samar otot tampak menyembul di balik kulit lengannya. Meski hal ini tidak pernah dia lakukan sebelumnya, Rara terlihat sangat menikmati.

    "Nak, sudah cukup. Biar nanti Doni saja yang lanjutin pompa airnya," wanita yang tak lagi muda keluar dari pintu rumah.

    Tangannya yang keriput dan hitam legam karena terbakar matahari, menopang piring plastik berisi singkong goreng. Rara langsung menelan ludah. Aroma dan warna kecoklatan di beberapa bagian singkong itu sangat menggoda. Seolah memanggil jemari gadis berusia 20 tahun itu untuk segera melahapnya tanpa sisa.

    "Apa keluargamu tidak marah, tiap hari kamu ke sini?" nada beraroma khawatir keluar dari bibir Darmi. Seorang janda tua yang hidup dengan seorang cucu.

    "Nenek enggak perlu khawatir, mereka enggak akan peduli sama apa yang aku kerjain," jawab Rara, kata-katanya tidak jelas. Mulutnya penuh dengan singkong panas, membuat lidahnya tak berhenti bergoyang. Namun, tampaknya Darmi mengerti. Dia mengangguk dengan senyum tipis.

    "Syukurlah kalau begitu, soalnya nenek takut gara-gara kami, kamu jadi dapat masalah," Darmi kembali menimpali, kemudian dia embuskan napas lega.

    Di mata Darmi, gadis di sebelahnya seperti malaikat. Dia diturunkan Tuhan untuk Desa mereka. Desa yang dipaksa buta akan pundi-pundi yang seharusnya mereka nikmati.

    ***

    Seperti pagi-pagi yang telah pergi, motor berseliweran memasuki gerbang kampus menuju parkiran. Beberapa dari mereka berebut lokasi. Ada juga yang duduk saling tukar cerita di bangku-bangku taman. Tak sengaja mata Rara menangkap sebuah tragedi. Seorang laki-laki berjalan mundur lalu menabrak cewek paling eksis di kampus. Cewek itu tersungkur. Tanpa pikir-pikir, tamparan melayang ke pipi lelaki itu. Refleks tawa Rara pecah, melengking di udara, sampai-sampai puluhan mahasiswa berhenti dan menatapnya.

    "Lihat, tuh, bisa enggak sih, ketawanya direm dikit," protes laki-laki di sebelah Rara, lirih tapi penuh tekanan. Dia menganggukkan kepala berulang kali, sepuluh jarinya menangkup di depan dada. Tanda maaf ke mahasiswa yang tampak tidak suka.

    Sementara Rara hanya nyengir, tidak peduli, "Lebay kamu, tuh! Lagian ketawa itu 'kan, hak asasi. Kenapa harus minta maaf."

    Gadis tomboi itu melengos begitu saja. Seolah suara berat Danu, berkicau layaknya burung emprit, tidak berarti di matanya. Rara terlihat begitu percaya diri melenggang dengan tas ransel kesayangannya, menuju ruangan di ujung koridor sebelah utara. Lumayan jauh dari parkiran tempat mereka berdiri.

    Danu tidak mau kalah, dia terus mengikuti dari belakang. Sejurus kemudian, dia duduk di samping Rara yang tengah asyik membaca buku.

    "Kamu itu, bisa enggak sih, enggak usah ikutin aku terus. Risih tahu enggak," ketus Rara.

    Dia menutup mukanya dengan buku yang baru dipinjam. Sebenarnya matanya sakit, karena harus membaca terlalu dekat. Akan tetapi, ini jalan satu-satunya untuk membuat Danu berhenti bicara. Ternyata Rara salah, rencananya gagal. Danu tetap mengganggu dengan berbagai pertanyaan.

    "Kamu belum jawab pertanyaan aku, Ra," keluh Danu lirih.

    "Soal tawa aku tadi? Enggak penting kali, Dan," bisik Rara.

    Sementara di sebelah Rara, Danu menepuk jidatnya sendiri. Berkali-kali menarik napas. Dia tidak peduli kalau sekarang ini, penghuni ruangan bukan cuma mereka. Ada banyak mahasiswa lain tengah asyik menunduk, menyelami tiap plot isi buku di depan mereka. Sesekali cewek di kursi pojok tertawa sendiri, tapi tanpa suara. Seolah pita suara bisa di atur otomatis. Kapan harus bersuara dan kapan harus senyap.

    "Bukan itu. Hmmm ... kemarin kamu ke mana?" suara Danu terdengar ragu-ragu.

    "Aku enggak kemana-mana," sahut Rara santai.

    "Enggak usah bohong. Kata bibi, kamu enggak di rumah!"

    "Rara, Danu! Ini perpustakaan, kalau mau ngobrol bukan di sini tempatnya. Sekarang juga kalian keluar, atau ...!"

    Tiba-tiba Rara dan Danu teriak kaget. Di meja pengawas, Pak Rahmat marah sambil menggebrak meja. Tak mau urusan makin panjang. Mereka berdua kabur. Sementara buku dibiarkan berserakan di meja.

    "Kamu itu bikin gara-gara saja. Sudah tahu perpus tetep saja ngomong keras-keras!" bentak Rara ngos-ngosan.

    "Marahnya nanti saja, kita ke kantin dulu, yuk. Haus, nih," pinta Danu. Berkali-kali dia mengatur napasnya.

    Detak jantung mereka berdegup tidak beraturan. Rara mengangguk saja. Dia pun lelah. Dari pagi sudah dibuat marah berkali-kali oleh Danu. Lelaki blasteran Jawa dan Korea. Kulitnya yang putih mewarisi dari ayahnya, sedangkan tindak tanduknya sudah pasti mewarisi tradisi ibunya. Yah, meskipun begitu, sifat menyebalkan pasti ada saat mereka bertemu. Namun, itu semua tidak pernah jadi masalah besar. Menguar bersama waktu yang terus berputar. Kehadiran pagi selalu muncul bersama canda tawa dari keduanya. Sebab rindu tak pernah bisa terbendung saat mereka jauh.

    Rara terus mengekor. Jemarinya nyaman berada di celah jari-jari Danu yang menggenggamnya erat. Sampai mereka tiba di kantin. Seperti biasa, Tuhan seakan telah menjodohkan tempat itu untuk mereka. Meja dengan dua bangku tepat di pojok menghadap kolam ikan. Tidak besar, tapi cukup memberi pemandangan ikan-ikan yang saling berkejaran. Setiap mereka datang meja itu selalu kosong, meskipun pengunjung sedang ramai. Mereka pun langsung duduk di sana. Tidak lama kemudian, Santi, pelayanan kantin menghampiri mereka.

    "Seperti biasa, ya, Mbak," seru Rara seraya mengikat rambutnya yang berantakan. Senyum mereka beradu.

    "Bakso kosongan dan ice lemon tea buat Mbak Rara dan mie ayam spesial sama es dawet untuk Mas Danu," jelas Santi, soal menu favorit mereka.

    Danu menjentikan jarinya, tanda benar. Mereka bertiga tertawa.

    "Eits, satu lagi, Mbak," sela Rara menghentikan tawa mereka.

    "Enggak pakai lama .... Iya, kan, Mbak, hehehe," sahut Santi. Mereka pun terkekeh. Santi melenggang meninggalkan Rara dan Danu yang kembali asyik dengan gerak-gerik ikan di kolam.

    "Ra."

    "Hmmm."

    "Ra."

    "Iya, Danu, Sayang," sahut Rara meledek. Sesaat kemudian perhatiannya kembali ke ikan lagi.

    "Kamu ini, aku serius. Kamu kemarin pergi ke sana lagi?" tanya Danu dengan sangat hati-hati.

    Tanpa memalingkan wajahnya, Rara dengan santai menjawab, "Iya. Aku bahagia di sana, Dan."

    "Tapi di sana bahaya," Danu menyahut.

    "Enggak. Enggak ada yang harus ditakuti di sana. Mereka semua baik. Kamu enggak akan ngerti."

    "Ya bagaimana aku bisa paham, kalau kamu sendiri enggak mau jelasin ke aku." Danu meraih tangan Rara. Menggenggamnya erat, "aku siap, kok, jadi pendengar."

    Kali ini sorot mata mereka beradu. Rara mencoba menelusuri lebih dalam lagi arti pandangan itu. Ada ketulusan di sana. Mungkin ini saat untuk Rara jujur tentang siapa dia. Siapa keluarganya dan kenapa dia lebih nyaman ada di tempat itu. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Bebas polusi, bebas macet. Semua asri terjaga.

    "Dan, sebenarnya aku, hmmm ... aku ...." Rara menunduk. Kerongkongannya seakan berat untuk bersuara.

    "Dua tahun lalu, kamu yakin menerimaku untuk jadi pacarmu. Menjadi tempat bersinggah untuk hatimu. Jadi, sekarang apa yang kamu ragukan, aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tapi tentang bagaimana hatimu," Danu perlahan memberi pengertian.

    Matanya berkaca-kaca. Rara menarik napas panjang. Mungkin ini jawaban Tuhan atas segala sujudnya. Rara bisa melihat kesungguhan Danu dari sorot matanya yang cokelat.

    "Aku ini bukan anak kandung ayah bundaku. Aku diadopsi saat usiaku enam tahun. Cita-cita anak panti adalah bisa punya orang tua. Aku bahagia sekali saat itu. Mimpiku akan menjadi nyata. Tapi ... kamu tahu, kan, ayah bundaku ...."

    Air mata tak lagi dapat dibendung. Rara berhenti bercerita, karena Santi datang bersama pesanan mereka. Rara menunduk malu, takut air matanya ketahuan oleh Santi. Padahal itu percuma dilakukan. Air mata bisa disembunyikan, tapi isak tak mampu dia tahan. Buktinya Santi langsung pergi, setelah meletakkan makanan di meja. Tanpa bertanya seperti hari-hari yang lalu.

    "Aku paham, sekarang kamu hapus dulu air matanya, malu, tuh dilihatin orang, hehehe," ujar Danu meredam tangis Rara. Dia menyeka air mata yang mengalir di pipi Rara, "sekarang kita makan, biar cacing di perut kamu enggak ikut nangis, hehehe." Danu lagi-lagi meledeknya.

    Canda dan tawa Danu selalu membuatnya mengucapkan syukur jauh di dasar hatinya.

    Dua hari berlalu. Suara mobil memecah kesunyian malam, berhenti di depan rumah bercat putih dengan dua lantai. Mendengar itu, Rara berlari menuruni anak tangga untuk membukakan pintu.

    "Bunda ...," teriak Rara setelah pintu dibuka.

    Seorang wanita mengenakan syal di leher membentangkan kedua tangannya. Bibirnya menyimpulkan senyum. Di belakangnya berdiri seorang pria berkaca mata. Lamat-lamat, terlihat beberapa uban menyembul di antara rambutnya. Memberikan senyum yang tak kalah manis.

    Rara menghambur ke pelukan wanita itu. Sejurus kemudian, pria itu memeluk keduanya.

    "Ayah sama Bunda, kok, enggak bilang-bilang dulu kalau mau pulang. Rara, kan, bisa jemput di bandara," keluh Rara kecewa.

    "Kalau bilang dulu namanya bukan surprise, dong, iya, kan, Yah?"

    "Nah, bener tuh, kata bundamu. Kami memang sengaja bikin kejutan buat kamu. Sudah lewat tengah malam, kan?" Ayah menimpali kata-kata bunda.

    "Happy Birthday, ya, Sayang," ucap bunda. Mengecup kening Rara. Sementara ayah mengusap-usap punggungnya.

    Mata Rara panas. Penuh genangan air mata. Dia kembali memeluk bundanya, erat.

    "Sudah hampir pagi, kangen-kangenannya kita lanjutkan besok. Kamu juga besok kuliah, kan, Sayang?" tanya ayahnya.

    "Hehehe, iya, Yah. Tapi Rara mau tidurnya ditemenin Bunda, ya," pinta Rara. Wajahnya di-setting memelas sambil bergelayut di pundak bunda.

    Bunda mengangguk mengiyakan. Ayah cemberut meledek. "Terus ayah sama, siapa?"

    "Sama bantal guling," balas bunda. Mereka berdua terkekeh sembari melangkah menapaki tangga, menuju kamar Rara.

    *****

    Hujan subuh tadi masih menyisakan rintik dan hawa dingin. Aroma tanah basah menguar. Genangan air tampak di mana-mana. Namun, mobil Avanza putih terus melaju membawa hati yang tandus seorang gadis.

    "Neng kita mau ke mana?"

    "Terus saja, Mang. Nanti di depan ada perempatan, kita belok kanan. lalu berhenti di gardu dekat perkampungan."

    Nada suara itu benar-benar terdengar tanpa ekspresi. Tatapannya kosong menerawang hutan bambu yang rantingnya bergoyang tertiup angin, dari balik kaca mobil. Decitan ranting bambu yang beradu terdengar melengking sesekali.

    "Ra, kita sudah sampai. Lihat, tuh, mereka sudah menunggu kamu di sana," ujar Danu yang sedari tadi duduk diam di sampingnya.

    Rara mengangguk, kemudian keluar setelah pintu mobil dibuka Mang Asep dari luar. Sorak-sorai warga desa menyambut Rara. Doni, cucu Darmi segera meraih bungkusan plastik hitam dari tangan Mang Asep. Danu pun turut membantu mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Jalanan yang becek tidak menghalangi antusias mereka.

    Tanpa di suruh, mereka berbaris menunggu giliran mendapat jatah. Bingkisan berisi kaos, sembako, dan jajanan anak kecil.

    "Nah, gitu dong, ketawa. Jadi makin manis dilihatnya, enggak asem kaya tadi," ledek Danu menyenggol pundak Rara dengan pundaknya.

    "Lihat mereka, Dan," Rara mengacungkan telunjuk ke arah gerombolan anak kecil yang bermanja ria dengan ibunya, "bahagia banget, ya, mereka. Dulu, waktu aku di panti, aku selalu bilang ke teman-teman, 'kalau kita dapat orang tua yang kaya, pasti kita bahagia', tapi ternyata aku salah, Dan." Rara menjatuhkan pandangan, mengaca di genangan air yang keruh, "mereka tidak pernah ada waktu buatku."

    "Ra, Tuhan tidak akan memberi semua yang kamu pinta. Tapi Dia akan memberi semua yang kamu butuh. Mereka kerja keras juga demi kamu. Mereka ingin kamu tidak hidup susah. Buktinya mereka pulang, kan, tadi malam. Ya, walau cuma sebentar. Setidaknya itu bukti cinta mereka." Danu mengangkat tangan kanan Rara setinggi kepala, "lewat tanan kecil kamu ini, orangtuamu bersedekah. Dia tidak pernah melarangmu berbagi dengan mereka, karena ayah bundamu tahu harta hanyalah titipan. Dan karena tangan kecilmu inilah, mereka bisa merasakan sedikit kenikmatan yang mungkin itu salah satu doa mereka."

    Rara menatap wajah Danu penuh haru. Dia benar, Tuhan sangat baik padaku. Harusnya aku bahagia, karena doaku, doanya, dan doa kita semua.

    Hong Kong, 11 Oktober 2019.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Cerpen

    Puisi

    Inspirasi